Tunnel Berisi Ratusan Nyawa: Bencana Nepal dan Ambisi Energi Hijau yang Lupa Menghitung Risiko Gletser
Rangga Pratama
Pemimpin Redaksi / Editor-in-Chief

Sejak Rabu pagi, 26 Agustus 2026, dunia menyaksikan salah satu bencana banjir bandang paling mematikan dekade ini di perbatasan Nepal-Tibet. Hingga akhir pekan, angka resmi mencatat lebih dari 750 orang tewas dan lebih dari 3.000 lainnya masih hilang — termasuk ratusan warga negara asing dan, yang paling mencolok, 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Di antara reruntuhan lumpur setinggi rumah dan jalan raya yang putus, kisah yang paling menyayat justru datang dari bawah tanah: ratusan buruh terjebak di terowongan proyek Trishuli 3A dan 3B, menunggu regu penyelamat Angkatan Darat Nepal mengebor jalan masuk lewat lumpur yang mengeras.
Ketika Gletser Runtuh, Terowongan Jadi Perangkap
Bencana ini dipicu longsoran gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter, mengirim es dan bebatuan sejauh 1.200 meter ke lembah, membendung Sungai Lhende secara alami sebelum bendungan darurat itu jebol dan melepas gelombang banjir dahsyat ke hilir — menerjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli hingga masuk wilayah India. Ironisnya, lembah sungai yang sama yang menjadi jalur maut ini adalah lokasi favorit pengembangan PLTA — sumber energi yang dipuji sebagai solusi hijau. Lebih dari seratus pekerja diyakini masih hidup di beberapa terowongan yang terendam, dan otoritas baru berhasil menembus bagian atas salah satu terowongan pada Sabtu malam untuk memompa udara dan memasukkan kamera pemantau.
Ilmu yang Tertinggal dari Ambisi Pembangunan
Gletser Himalaya kehilangan es 65% lebih cepat pada 2011-2020 dibanding dekade sebelumnya, dan gletser Nepal telah kehilangan hampir sepertiga volumenya dalam tiga dekade terakhir. Citra satelit bahkan menunjukkan kondisi hangat tak biasa di sekitar gletser yang runtuh sebelum bencana terjadi. Data ini semestinya jadi alarm keras bagi setiap proyek infrastruktur besar di lembah-lembah pegunungan yang makin rapuh. Tapi kenyataannya, laju pembangunan PLTA di Himalaya justru terus dipacu oleh permintaan energi bersih global, sering kali tanpa kajian risiko iklim yang benar-benar mengimbangi kecepatan perubahan lingkungan di sekitarnya.
Siapa yang Menanggung Risiko Infrastruktur Global?
Selain ratusan buruh PLTA, korban hilang juga mencakup ratusan turis dan peziarah asing dari berbagai negara — banyak di antaranya pendaki dan peziarah menuju Gunung Kailash serta Danau Manasarovar di Tibet. Pola ini bukan kebetulan: lembah-lembah terpencil dan rawan bencana kerap sekaligus jadi magnet pariwisata petualangan dan lokasi proyek energi skala besar, karena topografi ekstrem yang sama yang menarik wisatawan juga menghasilkan potensi tenaga air yang besar. Yang jadi pertanyaan adalah siapa yang menanggung ongkos ketika risiko itu berubah jadi bencana — buruh kontrak dan turis independen, atau perusahaan serta pemerintah yang merancang proyek dan mempromosikan jalur wisata itu.
Pelajaran bagi Negara Berkembang yang Mengejar Transisi Energi
Kasus ini punya gema bagi negara-negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang tengah memacu proyek energi terbarukan skala besar di wilayah rawan bencana — sebagaimana pernah disinggung redaksi ini soal ambisi energi dan siapa yang sebenarnya menanggung risikonya sewa-100-tahun-ketika-kedaulatan-migas-jadi-agunan-geopolitik. Bedanya, ancaman di Indonesia lebih banyak berupa gempa dan vulkanik, sementara di Himalaya adalah gletser yang mencair. Kesamaannya: proyek besar sering dikebut dengan justifikasi kepentingan strategis, sementara mitigasi risiko bagi pekerja dan warga sekitar kerap jadi catatan kaki, bukan syarat mutlak sebelum konstruksi dimulai.
Penutup: Energi Bersih Tak Boleh Berarti Nyawa yang Murah
Tim penyelamat mungkin akan terus mengebor lumpur di terowongan Trishuli selama beberapa hari ke depan, berharap menemukan yang selamat. Tapi pertanyaan yang lebih besar seharusnya bergema lebih lama dari operasi penyelamatan itu sendiri: berapa banyak proyek energi ambisius lain di zona rawan bencana yang berjalan dengan asumsi risiko iklim yang sudah usang? Transisi energi global memang mendesak, tapi kecepatan itu tidak boleh mengorbankan kajian keselamatan yang semestinya berkembang secepat perubahan iklim itu sendiri.
Pasang Iklan & Kemitraan Media
Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.
Rangga Pratama
Pemimpin Redaksi Sanasini.news. Mengawal jurnalisme investigatif berintegritas, editorial independen, dan standar etika pers berimbang.