[OPINI] Sebelas Hari Menuju Flores: Kunjungan Prabowo dan Ujian Tanggap Bencana Kita
Rangga Pratama
Pemimpin Redaksi / Editor-in-Chief
![[OPINI] Sebelas Hari Menuju Flores: Kunjungan Prabowo dan Ujian Tanggap Bencana Kita](https://minicms.sanasini.news/api/files/articles/zjmu6p3ewlw95jl/cand1_lg413ytefw.jpg?thumb=1000x600)
Kunjungan yang Datang Belakangan
Presiden Prabowo Subianto akhirnya menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Timur pada Rabu (26/8/2026), sebelas hari setelah gempa M7,7 meluluhlantakkan Flores dan sekitarnya. Angka korban terus membengkak sejak hari pertama: dari 47 jiwa di jam-jam awal, kini menembus 100 orang meninggal, 1.603 luka-luka, dan lebih dari 180 ribu warga mengungsi. Kunjungan presiden semestinya jadi puncak simbolik negara hadir di tengah bencana. Tapi redaksi Sana Sini News melihat pertanyaan yang lebih penting justru ada di balik jadwal kunjungan itu sendiri: kenapa baru sekarang, dan apa yang sebenarnya berubah di lapangan selama sebelas hari itu?
Bantuan yang Menumpuk di Kota, Menipis di Pelosok
Data resmi menunjukkan pemerintah sudah mengukurnya ratusan ton logistik dari 204 ton bahan pokok hingga dua unit rumah sakit lapangan dan kapal RS TNI AL yang bersandar di Manggarai. Di atas kertas, responsnya masif. Namun laporan lapangan bercerita lain: camat di Manggarai Timur sampai melayangkan kemarahan terbuka ke BNPB soal distribusi bantuan yang tersendat, sementara warga di pelosok mengeluh hanya kebagian segelas beras, sebutir telur, dan mi instan seminggu pasca-gempa. Ini pola familiar tiap bencana besar di Indonesia: logistik menumpuk di titik kumpul dekat kota, macet begitu menembus medan pegunungan Flores yang sulit dan infrastruktur jalan yang rusak akibat gempa itu sendiri.
Simbolisme yang Perlu Dibuktikan dengan Substansi
Bukan berarti kunjungan presiden tidak berarti. Kehadiran fisik kepala negara punya fungsi riil, mempercepat koordinasi lintas kementerian, memberi tekanan politik pada birokrasi yang lamban, dan memberi rasa didengar bagi korban yang sudah sebelas hari hidup di tenda pengungsian. Istana menyebut Prabowo sudah memberi arahan sejak awal gempa terjadi. Tapi arahan dari Jakarta dan eksekusi di lapangan adalah dua hal berbeda, dan jarak sebelas hari itu justru jadi bukti paling telanjang bahwa command center pusat tidak otomatis menyelesaikan masalah rantai distribusi di daerah. Kunjungan hari ini akan sia-sia secara substansi kalau hanya berhenti pada seremoni dan foto peninjauan, tanpa audit terbuka soal di mana persisnya bantuan tersendat.
Pelajaran yang Berulang, Belum Juga Dijawab
Indonesia bukan negara baru menghadapi gempa besar, dan sayangnya pola kegagalan distribusi bantuan ke wilayah terpencil juga bukan cerita baru. Gempa M 5,9 yang mengguncang Jepang timur beberapa waktu lalu jadi pembanding menarik: sistem tanggap bencana yang matang bukan soal seberapa cepat presiden datang, melainkan seberapa cepat rantai logistik lokal bergerak tanpa menunggu instruksi pusat. BNPB sendiri memperingatkan gempa susulan masih berpotensi terjadi hingga empat pekan ke depan, artinya jendela kritis penanganan belum tertutup, dan kunjungan hari ini semestinya jadi momentum evaluasi, bukan penutup narasi.
Kesimpulan: Jangan Biarkan Kunjungan Jadi Titik Akhir Perhatian
Redaksi Sana Sini News menilai kunjungan Prabowo ke NTT hari ini adalah langkah benar, tapi terlambat untuk ukuran kecepatan yang dibutuhkan korban di pelosok Flores. Ukuran keberhasilannya bukan pada seremoni hari ini, melainkan apakah keluhan camat dan warga soal bantuan tersendat benar-benar ditindaklanjuti dalam hitungan hari, bukan minggu berikutnya. Publik berhak menagih pembuktian, bukan sekadar jargon.
Baca juga: [OPINI] Gempa NTT dan Kebiasaan Buruk Kita: Tanggap Darurat Jago, Mitigasi Amatir untuk kabar menarik lainnya.
Dilansir dari CNN Indonesia.
Pasang Iklan & Kemitraan Media
Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.
Rangga Pratama
Pemimpin Redaksi Sanasini.news. Mengawal jurnalisme investigatif berintegritas, editorial independen, dan standar etika pers berimbang.