SANASINI.NEWS
Opini

Dua Pelaut Filipina Tewas di Selat Hormuz: Ongkos Manusia yang Tenggelam di Balik Perang Geopolitik

R

Rangga Pratama

Pemimpin Redaksi / Editor-in-Chief

1.035 pembacaKamis, 3 September 2026 pukul 17.55 WIB
Dua Pelaut Filipina Tewas di Selat Hormuz: Ongkos Manusia yang Tenggelam di Balik Perang Geopolitik
Ilustrasi Berita — Foto & Dokumentasi Sanasini.news

Dua pelaut asal Filipina tewas ketika kapal tanker Sidr milik perusahaan pelayaran nasional Arab Saudi, Bahri, diserang di Selat Hormuz pada Senin, 31 Agustus 2026. Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait kompak menyebutnya sebagai serangan yang melanggar hukum internasional dan kebebasan pelayaran, sementara Garda Revolusi Iran mengklaim dua tanker itu “terkena ranjau” tanpa mengakui keterlibatan langsung. Di tengah tarik-menarik narasi geopolitik antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran, dua nama pelaut yang kehilangan nyawa nyaris tak disebut sama sekali di headline besar dunia.

Serangan yang Berulang, Korban yang Terus Berganti

Insiden Sidr bukan yang pertama. Bahri sebelumnya juga kehilangan kapal bernama Wedyan yang diserang Juli lalu, ditambah dua tanker lain, Masa dan Amzan, yang jadi sasaran di Laut Merah. Sejak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari 2026, lalu lintas di Selat Hormuz—yang dulunya dilalui sekitar 20 persen minyak dunia—menyusut drastis karena operator kapal memilih rute memutar yang lebih mahal dan lebih lama demi keselamatan awak. Pola serangan yang berulang ini menunjukkan bahwa jalur air paling strategis di dunia energi kini berubah menjadi arena pertaruhan risiko harian bagi siapa pun yang masih berani berlayar di sana.

\”Ranjau\” atau Serangan? Klaim yang Sengaja Dibiarkan Kabur

Ambiguitas antara \”terkena ranjau\” versi Iran dan \”serangan\” versi Saudi-Qatar-Kuwait bukan sekadar beda sudut pandang jurnalistik, melainkan strategi yang disengaja. Ranjau laut sulit dilacak asal-usulnya secara instan, sementara serangan rudal langsung menuding pelaku. Dengan membingkai insiden sebagai kecelakaan akibat ranjau, Iran mendapat ruang deniability yang membuat eskalasi militer balasan jadi lebih sulit dijustifikasi secara hukum internasional, sekalipun pola serangan yang berulang ke kapal-kapal milik satu perusahaan yang sama membuat klaim itu semakin sulit dipercaya oleh pengamat maritim independen maupun asosiasi pelayaran global.

Pelaut Asia Tenggara: Garda Terdepan yang Tak Pernah Diajak Bicara

Yang jarang masuk pemberitaan adalah komposisi awak kapal-kapal yang jadi korban. Industri pelayaran global, termasuk kapal-kapal tanker raksasa yang melintasi Hormuz, sangat bergantung pada tenaga kerja dari Filipina dan Indonesia—dua negara penyuplai pelaut terbesar dunia. Ketika kapal seperti Sidr diserang, yang mempertaruhkan nyawa bukan diplomat atau jenderal dari negara-negara yang berperang, melainkan pekerja migran maritim yang naik kapal demi penghidupan keluarga di kampung halaman. Redaksi Sana Sini News sebelumnya sudah menyoroti bagaimana eskalasi di Larak Island ikut melemahkan rupiah dan menaikkan harga BBM di dalam negeri—namun ongkos manusia yang ditanggung pelaut Asia Tenggara di garis depan jalur pelayaran itu jauh lebih personal dan jarang dihitung dalam statistik makroekonomi mana pun.

Selat yang Menyempit, Dunia yang Menanggung Ongkosnya

Penyusutan trafik di Hormuz memang mendorong premi asuransi pelayaran melonjak dan memaksa perusahaan minyak mencari rute alternatif yang lebih mahal, sebuah beban yang pada akhirnya diteruskan ke harga bahan bakar dan barang konsumsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Al Jazeera mencatat bahwa Amerika Serikat masih mempertahankan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah kebijakan yang alih-alih meredakan justru mempertahankan siklus balas-membalas yang membuat setiap pelayaran lewat selat itu menjadi taruhan nyawa. Selama blokade dan serangan balasan terus berlanjut tanpa mekanisme deeskalasi yang jelas, tak ada pihak yang benar-benar diuntungkan kecuali industri asuransi risiko tinggi dan produsen senjata di kedua kubu.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Kondolensi resmi dari Riyadh, Doha, dan Kuwait City penting sebagai sikap diplomatik, tapi tidak cukup untuk melindungi ratusan ribu pelaut migran yang setiap hari masih harus melintasi salah satu jalur air paling berbahaya di dunia demi sesuap nasi. Badan maritim internasional dan negara-negara pengirim tenaga kerja pelaut seperti Filipina dan Indonesia semestinya mendesak pembentukan koridor kemanusiaan yang benar-benar dihormati semua pihak berkonflik, bukan sekadar imbauan yang diabaikan setelah setiap insiden reda. Sampai itu terjadi, setiap kali kapal tanker terbakar di Hormuz, yang pertama kali menanggung akibatnya bukan Washington atau Teheran, melainkan keluarga pelaut yang menunggu kabar di kampung halaman.

Iklan / AdvertorialSanasini Network
S

Pasang Iklan & Kemitraan Media

Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.

Hubungi Redaksi
R

Rangga Pratama

Pemimpin Redaksi Sanasini.news. Mengawal jurnalisme investigatif berintegritas, editorial independen, dan standar etika pers berimbang.