Bisakah Anak dan Remaja Terkena Penyakit Kencing Manis? Ini Penjelasan Dokter Spesialis
Kai Sterling
Redaktur Kesehatan & Wellness

Selama ini penyakit kencing manis atau diabetes melitus sering dianggap hanya menyerang orang dewasa dan lanjut usia. Padahal, menurut dokter spesialis anak dr. Muda Isa Ariantana dari Santosa Hospital Bandung Central, prevalensi diabetes pada kelompok usia muda justru menunjukkan tren peningkatan yang cukup mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, khususnya para orang tua. Pemahaman mendalam mengenai gejala, penanganan, serta pencegahan penyakit ini sejak usia dini adalah kunci utama dalam membendung laju peningkatan kasus yang kian signifikan di berbagai daerah.
Diabetes Bukan Cuma Penyakit Orang Tua
Menurut dr. Muda Isa, anggapan bahwa diabetes eksklusif menyerang orang dewasa perlu segera diluruskan. Baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2 kini semakin sering ditemukan pada anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun. Pergeseran demografis penderita penyakit ini menunjukkan bahwa ancaman gangguan metabolik tidak lagi mengenal batas usia.
Riset global bahkan mencatat tren peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia muda yang berlangsung cukup cepat di berbagai wilayah dunia. Begitu dinamisnya lonjakan kasus ini sehingga sejumlah pakar kesehatan internasional menyebutnya sebagai fenomena yang menyerupai “pandemi baru” di kalangan populasi muda pada abad ke-21. Hal ini menuntut adanya tindakan preventif yang sistematis di lingkungan keluarga dan sekolah.
Dua Jenis Diabetes yang Bisa Menyerang Anak
Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 merupakan kondisi autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan merusak sel beta pankreas yang berfungsi memproduksi hormon insulin. Karena kerusakan seluler ini bersifat permanen, tubuh anak tidak lagi mampu memproduksi insulin secara mandiri untuk mengolah kadar gula darah.
Di Indonesia, diabetes tipe 1 disebut masih menjadi jenis yang lebih umum ditemukan pada anak-anak dibandingkan dengan tipe 2. Meski demikian, para ahli menduga masih banyak kasus riil di lapangan yang belum terdiagnosa secara resmi (underdiagnosed). Hal ini dikarenakan minimnya fasilitas deteksi dini di fasilitas kesehatan primer tingkat daerah.
Diabetes Tipe 2
Berbeda secara fundamental dengan tipe 1, diabetes tipe 2 lebih erat kaitannya dengan faktor gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari. Resistensi insulin yang menjadi ciri khas tipe ini biasanya dipicu oleh kelebihan berat badan (obesitas) dan akumulasi lemak tubuh yang tidak terkontrol sejak usia dini.
Perubahan pola hidup, urbanisasi yang cepat, serta kebiasaan kurang aktif bergerak (sedentary lifestyle) yang sudah dimulai sejak usia anak-anak disebut sebagai sejumlah faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia muda. Konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat turut mempercepat terjadinya komplikasi kesehatan metabolik ini.
Kenapa Kesadaran soal Diabetes Anak Perlu Ditingkatkan
Meningkatnya tren diabetes pada anak dan remaja menjadi pengingat bagi orang tua maupun tenaga pendidik untuk lebih peka terhadap gejala-gejala klinis yang mungkin muncul pada anak. Sangat penting bagi kita untuk mulai mendorong gaya hidup aktif, membatasi screen time, serta membiasakan pola makan kaya serat dan gizi seimbang sejak dini demi masa depan anak yang lebih cerah.
Deteksi dini juga berperan sangat krusial dalam menyelamatkan jiwa anak. Mengingat sebagian kasus diabetes tipe 1 pada anak diperkirakan luput dari diagnosis medis karena gejalanya yang kerap tidak mengenali sejak awal oleh keluarga, edukasi berkelanjutan mengenai tanda-tanda diabetes harus digencarkan secara masif.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan penjelasan ilmiah dari dokter spesialis anak sebagaimana dilaporkan Tribunnews Jabar, dan ditujukan sebagai sarana informasi umum, bukan pengganti rujukan atau konsultasi medis profesional. Orang tua yang mendapati anak menunjukkan gejala mencurigakan—seperti sering haus secara ekstrem (polidipsia), sering buang air kecil terutama di malam hari (poliuria), penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, atau mudah lelah tanpa aktivitas berat—disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter spesialis terkait di rumah sakit terdekat.
(Artikel ini disusun ulang dari laporan Tribunnews Jabar oleh Editor Siti Fatimah, dipublikasikan 3 Maret 2026, update 21 April 2026. Sanasini News berkomitmen menyajikan edukasi kesehatan yang tepercaya dan akurat.)
Pasang Iklan & Kemitraan Media
Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.
Kai Sterling
Redaktur Kesehatan Sanasini.news. Menyajikan literatur medis berbasis bukti, panduan nutrisi, dan gaya hidup sehat preventif.