S
SANASINI.NEWS
Kesehatan

Skrining Serviks Wajib: kenapa 1 dari 3 wanita 20an abai

R

Redaksi Sanasini

Tim Meja Redaksi

Kamis, 10 September 2026 pukul 17.27 WIB
Skrining Serviks Wajib: kenapa 1 dari 3 wanita 20an abai
Ilustrasi Berita — Foto & Dokumentasi Sanasini.news

Skrining serviks wajib menjadi perhatian serius di kalangan praktisi kesehatan setelah data terbaru mengungkapkan hampir 1 dari 3 wanita usia 20-an belum pernah melakukan pemeriksaan pencegahan kanker leher rahim ini. Temuan yang dirilis awal September 2026 ini memantik keprihatinan luas mengingat kanker serviks masih menjadi penyebab kematian utama perempuan di Asia Tenggara.

Rendahnya Kesadaran di Kalangan Milenial

Survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kandungan Indonesia (POGI) menunjukkan hanya 68% wanita usia 21-29 tahun yang pernah melakukan pap smear atau tes HPV. Padahal, rekomendasi internasional menyarankan skrining rutin dimulai sejak usia 21 tahun atau setelah aktif secara seksual. “Banyak perempuan muda menganggap diri mereka terlalu sehat untuk skrining,” ujar dr. Rina Kusuma, Sp.OG dari RS Cipto Mangunkusumo.

Faktor budaya turut mempengaruhi rendahnya partisipasi. Survei menunjukkan 45% responden merasa malu menjalani pemeriksaan area intim, sementara 30% mengaku takut dengan prosedurnya. Padahal, teknologi terkini telah membuat skrining serviks lebih nyaman dengan metode liquid-based cytology yang mengurangi rasa tidak nyaman.

Dampak Penundaan Skrining

Penundaan skrining serviks wajib berisiko meningkatkan deteksi kanker pada stadium lanjut. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 70% kasus kanker serviks di Indonesia terdiagnosis pada stadium III-IV dimana pengobatan menjadi lebih kompleks. “Deteksi dini melalui skrining rutin dapat menemukan kelainan sebelum berkembang menjadi kanker,” tegas dr. Andi Utama dari Komite Penanggulangan Kanker Nasional.

Di negara dengan program skrining terorganisir seperti Australia, insiden kanker serviks turun 50% dalam dua dekade terakhir. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menyediakan layanan skrining gratis di Puskesmas melalui program Deteksi Dini Kanker Serviks (DDKS) sejak 2015, namun partisipasi masih di bawah 30% dari target.

Strategi Meningkatkan Partisipasi

Para ahli merekomendasikan beberapa pendekatan untuk meningkatkan kesadaran skrining serviks wajib: edukasi melalui media sosial yang digemari generasi muda, pelibatan influencer kesehatan, serta penyederhanaan prosedur. “Kami sedang mengembangkan metode swab mandiri yang bisa dilakukan di rumah untuk mengurangi hambatan psikologis,” papar Prof. Sri Rahayu dari Fakultas Kedokteran UI.

Beberapa rumah sakit swasta terkemuka juga mulai menawarkan paket skrining serviks lengkap dengan konseling pra-prosedur untuk mengurangi kecemasan pasien. Teknologi telemedicine juga dimanfaatkan untuk memberikan penjelasan mendetail sebelum pasien memutuskan untuk melakukan skrining.

Penting diketahui bahwa skrining serviks wajib sebaiknya dilakukan setiap 3-5 tahun tergantung metode yang digunakan. Wanita dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, merokok, atau berganti-ganti pasangan seksual mungkin membutuhkan frekuensi lebih sering sesuai anjuran dokter.

Masyarakat perlu memahami bahwa skrining serviks bukan hanya tentang deteksi kanker, tetapi juga pencegahan melalui identifikasi lesi pra-kanker yang bisa diobati sebelum berkembang ganas. Vaksinasi HPV tetap diperlukan meski telah melakukan skrining karena mencakup perlindungan terhadap lebih banyak tipe virus.

Rendahnya partisipasi skrining di kalangan wanita muda ini menjadi tantangan besar dalam upaya menekan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dibutuhkan untuk mengubah paradigma bahwa pencegahan sama pentingnya dengan pengobatan.

Simak juga kabar menarik lainnya di Sanasini tentang inovasi terbaru dalam deteksi dini kanker payudara yang sedang dikembangkan peneliti Indonesia. Dilansir dari keterangan pers Kementerian Kesehatan RI tentang peningkatan akses layanan kesehatan preventif.

Baca juga: Yemen Houthis Red Sea Port: Yemen Houthis Seize Strategis Red Sea untuk kabar menarik lainnya.

Dilansir dari Healthline.

Iklan / AdvertorialSanasini Network
S

Pasang Iklan & Kemitraan Media

Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.

Hubungi Redaksi
R

Redaksi Sanasini

Menyajikan informasi aktual, terpercaya, dan independen dari meja redaksi pusat Sanasini.news.