Zelensky Tolak Gelar Pemilu di Masa Perang: ‘Akan Memecah Belah Ukraina’
Rendy Pangkerejo
Redaktur Internasional & Geopolitik

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara tegas menyatakan sikapnya untuk menolak penyelenggaraan pemilihan umum di tengah situasi perang yang masih berkecamuk dengan Rusia. Zelensky memperingatkan bahwa memaksakan proses elektoral saat kedaulatan negara sedang dipertaruhkan hanya akan membawa risiko polarisasi yang sangat besar dan berpotensi menghancurkan persatuan domestik Ukraina yang telah dirajut dengan susah payah sejak invasi dimulai pada tahun 2022.
Pernyataan ini mencerminkan dilema mendalam yang dihadapi oleh negara-negara demokratis ketika berada dalam kondisi perang eksistensial. Di satu sisi, pemilu merupakan pilar utama demokrasi, namun di sisi lain, keselamatan warga negara dan stabilitas pertahanan menuntut konsentrasi penuh dari seluruh elemen kepemimpinan nasional.
Penangguhan Proses Elektoral di Tengah Status Darurat Militer
Sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh pada Februari 2022, Ukraina secara konsisten berada di bawah status darurat militer yang terus diperpanjang secara berkala. Berdasarkan konstitusi Ukraina, pelaksanaan pemilihan umum—baik pemilihan presiden maupun parlemen—secara otomatis ditangguhkan selama darurat militer berlaku. Kebijakan penangguhan ini awalnya mendapatkan dukungan yang sangat luas dari publik dan partai-partai oposisi, karena fokus kolektif bangsa adalah mempertahankan diri.
Namun, seiring berjalannya waktu dan perang yang memasuki tahun-tahun yang panjang, diskursus mengenai legitimasi kekuasaan dan perlunya penyegaran kepemimpinan mulai bermunculan ke permukaan. Zelensky menangkis tuntutan tersebut dengan argumen keselamatan nasional yang logis. “Dalam situasi perang seperti ini, pemilu itu risiko yang sangat besar. Itu ibarat tsunami bagi negara kami,” ujar Zelensky dalam sesi briefing bersama wartawan internasional di Kyiv, termasuk perwakilan resmi dari AFP.
Narasi Konflik Internal: Kasus Pencopotan Mykhailo Fedorov
Pernyataan Zelensky ini mengemuka di tengah situasi politik dalam negeri yang mulai menghangat secara internal. Desakan untuk menyelenggarakan pemilu salah satunya disuarakan oleh mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, yang memiliki basis popularitas cukup signifikan di kalangan militer maupun warga sipil. Fedorov, yang baru-baru ini diberhentikan dari jabatannya oleh Zelensky, menyerukan agar proses demokrasi tidak boleh mati demi menjamin transparansi pemerintahan.
Pemberhentian Fedorov sendiri sempat memicu gelombang unjuk rasa damai dari ribuan pendukungnya di jalanan Kyiv. Kendati demikian, berbagai kalangan menilai usulan pemilu yang dilemparkan oleh pihak Fedorov tidak disertai dengan cetak biru atau strategi implementasi logistik yang jelas di tengah situasi perang aktif. Hal ini membuat sebagian pendukung Fedorov sendiri mulai menjaga jarak dari desakan tersebut karena khawatir akan memicu instabilitas faksi dalam militer.
Hambatan Logistik dan Teknis Penyelenggaraan Pemilu
Para pengamat politik dan pakar hukum tata negara menjabarkan sederet kendala teknis luar biasa yang hampir mustahil diselesaikan jika pemilu dipaksakan berjalan saat ini. Pertama, bagaimana menjamin hak pilih jutaan personel militer Ukraina yang saat ini tengah bertempur aktif di garis depan pertahanan? Menyelenggarakan tempat pemungutan suara di parit pertahanan yang terus dihujani artileri Rusia tentu merupakan hal yang mustahil dilakukan.
Kedua, terdapat lebih dari enam juta pengungsi Ukraina yang saat ini tersebar di seluruh benua Eropa dan wilayah global lainnya. Memobilisasi logistik pemilu untuk jutaan pengungsi dalam waktu singkat membutuhkan koordinasi diplomatik dan dana yang luar biasa besar. Belum lagi nasib jutaan warga Ukraina yang masih tertinggal di wilayah-wilayah pendudukan Rusia yang tidak mungkin menyalurkan hak suara mereka secara bebas dan aman tanpa intimidasi dari pasukan pendudukan.
Prioritas Mutlak Mempertahankan Kedaulatan Negara
Sikap keras Zelensky ini menegaskan kembali skala prioritas mutlak yang diambil oleh jajaran pemerintahan Ukraina saat ini. Fokus tunggal negara adalah memusatkan seluruh sumber daya finansial, personel, dan logistik untuk menyokong garis depan pertempuran, ketimbang memecah konsentrasi nasional ke dalam panggung kampanye politik elektoral yang berpotensi memicu perpecahan sipil.
Polarisasi politik di tengah perang dinilai hanya akan menguntungkan pihak Rusia, yang gencar memanfaatkan ruang informasi digital untuk menyebarkan propaganda dan memperlebar friksi internal di kalangan elite politik Kyiv. Dengan demikian, status darurat militer diproyeksikan akan terus dipertahankan tanpa batas waktu yang pasti, setidaknya hingga krisis keamanan regional ini menunjukkan tanda-tanda mereda yang signifikan.
Catatan Redaksi
Isu penangguhan pemilihan umum di Ukraina merupakan topik yang sangat sensitif dan dinamis, melibatkan debat konstitusional domestik serta kalkulasi geopolitik internasional. Sanasini News menyajikan informasi ini berdasarkan laporan dari berbagai jurnalis internasional tepercaya dan berkomitmen untuk memperbarui liputan seiring dengan berkembangnya dinamika hukum dan politik di wilayah tersebut.
(Artikel disusun ulang dari laporan detikNews oleh Yulida Medistiara pada 23 Agustus 2026. Sanasini News menyajikan informasi global secara akurat, mendalam, dan independen.)
Pasang Iklan & Kemitraan Media
Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.
Rendy Pangkerejo
Redaktur Internasional Sanasini.news. Mengulas pergeseran geopolitik global, diplomasi strategis, dan konflik kawasan dunia.