SANASINI.NEWS
Internasional

Tumpukan Sampah di TPA Guinea Runtuh Timpa Permukiman, 30 Orang Tewas

R

Rendy Pangkerejo

Redaktur Internasional & Geopolitik

868 pembacaSenin, 24 Agustus 2026 pukul 08.26 WIB
Tumpukan Sampah di TPA Guinea Runtuh Timpa Permukiman, 30 Orang Tewas
Ilustrasi Berita — Foto & Dokumentasi Sanasini.news

Bencana kemanusiaan mengguncang ibu kota Guinea, Conakry, setelah tumpukan sampah raksasa di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) longsor dan menimpa permukiman warga yang berada tepat di bawahnya. Insiden ini terjadi dini hari Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 02.00 waktu setempat, saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan detikNews, longsoran sampah menerjang permukiman di Distrik Bbessia, tepatnya area Dar-es-Salam — permukiman padat yang berdampingan dengan TPA tersebut. Akibatnya, sedikitnya 30 orang tewas dan enam lainnya luka-luka.

Proses Evakuasi dan Pencarian Korban

Tim penyelamat gabungan dikerahkan sejak dini hari mencari kemungkinan korban yang masih terkubur reruntuhan sampah. Pihak berwenang setempat menyatakan telah mengerahkan sumber daya manusia dan peralatan berat signifikan untuk mempercepat pencarian.

“Sumber daya manusia dan peralatan yang signifikan telah dikerahkan untuk mencari individu yang mungkin masih terkubur, menyelamatkan korban, dan mengevakuasi jenazah,” demikian pernyataan resmi pejabat setempat, dikutip detikNews.

Alat berat jenis ekskavator diterjunkan ke lokasi membantu penggalian reruntuhan yang menimpa rumah warga. Tokoh masyarakat setempat, Lancine Sylla, mengonfirmasi “18 jenazah telah dievakuasi dan dibawa ke kamar mayat.”

Perdana Menteri Guinea Turun Langsung ke Lokasi

Menyusul besarnya dampak bencana ini, Perdana Menteri Guinea, Amadou Oury Bah, langsung mendatangi lokasi kejadian meninjau evakuasi dan penanganan korban. Kehadirannya menandakan seriusnya respons pemerintah Guinea terhadap tragedi berskala besar ini.

Penutupan TPA yang Terlambat

Sorotan tajam datang dari tokoh oposisi sekaligus mantan Perdana Menteri Guinea, Cellou Dalein Diallo. Ia menyebut insiden ini sebagai tragedi yang sangat menyedihkan sekaligus mengungkap fakta pahit di baliknya.

“Penutupan tempat pembuangan sampah ini sebenarnya sudah dijadwalkan pada hari Minggu, 23 Agustus,” ungkap Diallo — merujuk pada tanggal yang sama dengan waktu terjadinya longsor maut tersebut.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai mengapa penutupan TPA tidak dilakukan lebih awal, mengingat otoritas setempat sebelumnya sudah pernah memerintahkan evakuasi warga di sekitar lokasi karena kekhawatiran risiko longsor.

Sudah Ada Peringatan Sebelumnya

Otoritas Guinea sempat mengeluarkan perintah evakuasi warga di sekitar TPA sebelum bencana ini — bukti bahwa risiko longsor sampah sudah terdeteksi, namun mitigasi dan relokasi warga tampaknya belum tuntas saat bencana terjadi. Kondisi ini menyoroti persoalan klasik di negara berkembang: kepadatan permukiman berdesakan dengan fasilitas pembuangan sampah, ditambah minimnya infrastruktur pengelolaan limbah memadai.

Situasi Politik Guinea Saat Ini

Guinea saat ini dipimpin Jenderal Mamadi Doumbouya, yang naik ke tampuk kekuasaan lewat kudeta 2021 dan terpilih sebagai presiden pada Desember 2025. Pemerintahannya kini menghadapi ujian penanganan bencana ini, yang berpotensi jadi sorotan publik terkait kesiapan infrastruktur dan mitigasi bencana di Conakry.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan sampah terus berlangsung. Jumlah korban tewas berpotensi bertambah seiring berlanjutnya evakuasi oleh tim penyelamat gabungan.

Disadur dari laporan detikNews (Farih Maulana Sidik), tayang Senin, 24 Agustus 2026 pukul 02.32 WIB.

Iklan / AdvertorialSanasini Network
S

Pasang Iklan & Kemitraan Media

Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.

Hubungi Redaksi
R

Rendy Pangkerejo

Redaktur Internasional Sanasini.news. Mengulas pergeseran geopolitik global, diplomasi strategis, dan konflik kawasan dunia.