SANASINI.NEWS
Internasional

AS Tunda Operasi ‘Economic D-Day’, tapi Tetap Ancam Negara yang Masih Berhubungan dengan Iran

R

Rendy Pangkerejo

Redaktur Internasional & Geopolitik

617 pembacaSelasa, 25 Agustus 2026 pukul 08.36 WIB
AS Tunda Operasi ‘Economic D-Day’, tapi Tetap Ancam Negara yang Masih Berhubungan dengan Iran
Ilustrasi Berita — Foto & Dokumentasi Sanasini.news

Pemerintah Amerika Serikat resmi menunda pelaksanaan operasi bertajuk "Economic D-Day" yang sebelumnya digadang-gadang bakal menghantam bisnis" class="internal-link font-semibold text-brand-600 dark:text-brand-400 underline decoration-brand-500/40 hover:decoration-brand-600 transition-colors" title="ekonomi">ekonomi Iran secara masif. Meski begitu, Washington menegaskan ancaman itu belum hilang — negara-negara yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Teheran tetap berada dalam bidikan sanksi.

Kabar ini disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dilaporkan detikNews mengutip CNN Indonesia, Selasa (25/8/2026). Bessent menyebut penundaan bukan berarti tekanan terhadap Iran mengendur, melainkan strategi baru yang lebih terukur.

Apa Itu "Economic D-Day"?

Istilah "Economic D-Day" sebelumnya mencuat sebagai rencana besar AS untuk melumpuhkan jalur ekonomi Iran secara serentak, mengadaptasi istilah militer D-Day yang identik dengan operasi skala besar dan mendadak. Rencana ini digadang bakal menyasar berbagai sektor yang selama ini masih menjadi sumber pemasukan bagi Teheran di tengah tekanan sanksi internasional yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Namun menurut Bessent, peluncuran operasi tersebut kini ditunda demi memberi ruang bagi pendekatan diplomasi terlebih dahulu, sebelum langkah-langkah keras benar-benar dijalankan.

Sasaran Baru: Aset Digital, Teknologi, hingga Maritim

Salah satu poin penting dari pernyataan Bessent adalah perluasan cakupan aktivitas yang dianggap "berhubungan dengan Iran" dan berpotensi kena sanksi AS ke depan. Pemerintahan Trump kini memasukkan tiga sektor baru ke daftar pengawasan ketat: aset digital (termasuk kripto), teknologi, dan sektor maritim/pelayaran.

Perluasan ini mengindikasikan bahwa Washington tidak lagi hanya menyasar transaksi minyak atau perbankan konvensional, tapi juga jalur-jalur baru yang selama ini dianggap celah bagi Iran untuk tetap bertransaksi dengan dunia internasional secara tidak langsung.

"Diplomasi Senyap" ala Bessent

Bessent menjelaskan bahwa pendekatan yang kini dipilih AS adalah apa yang ia sebut sebagai "silent diplomacy" atau diplomasi senyap. Menurutnya, cara ini dinilai lebih efektif dibanding langsung menjatuhkan sanksi tanpa peringatan.

"Kami percaya diplomasi senyap adalah pendekatan terbaik, dan kami sedang menyelaraskan ekspektasi kami dengan masing-masing negara," ujar Bessent, sebagaimana dikutip detikNews.

Ia juga menyebut pengumuman awal soal Economic D-Day sebelumnya sebagai semacam "tembakan peringatan" atau warning shot bagi negara-negara yang masih bertransaksi dengan Iran. Bessent menegaskan, sanksi mendadak tanpa peringatan justru berisiko mengguncang stabilitas keuangan global — sesuatu yang ingin dihindari pemerintah AS.

"Kami memberi kesempatan kepada semua pihak untuk memperbaiki kesalahan, tapi sanksi langsung tanpa peringatan bisa mengguncang stabilitas keuangan global," kata Bessent.

Tenggat Waktu Diberikan ke Negara-negara Mitra

Meski memilih jalur diplomasi, AS disebut sudah memberikan tenggat waktu tertentu ke masing-masing negara yang teridentifikasi masih menjalin aktivitas ekonomi dengan Iran, agar segera menghentikan hubungan tersebut. Jangka waktu berbeda-beda tiap negara, menyesuaikan tingkat keterlibatan ekonominya dengan Teheran.

Langkah ini menunjukkan AS masih berupaya mengoordinasikan tekanan terhadap Iran secara kolektif bersama mitra globalnya, alih-alih langsung menjatuhkan sanksi sepihak yang berisiko memicu gesekan diplomatik.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait pernyataan terbaru Menteri Keuangan AS tersebut.

Artikel olahan dari detikNews/CNN Indonesia (Arief Ikhsanudin), 25 Agustus 2026.

Iklan / AdvertorialSanasini Network
S

Pasang Iklan & Kemitraan Media

Jangkau pembaca berita nasional dan pembaca cerdas di seluruh Indonesia.

Hubungi Redaksi
R

Rendy Pangkerejo

Redaktur Internasional Sanasini.news. Mengulas pergeseran geopolitik global, diplomasi strategis, dan konflik kawasan dunia.